Mochamad Agus Wafa
Fakultas
Psikologi, Universitas Muhammadiyah Malang
Dewasa ini banyak tayangan di
media tentang kekerasan, kekejaman, baik terhadap orang lain maupun diri
sendiri. Hal-hal seperti itu merupakan bentuk dari perilaku agresivitas (Atkin,
Smith, Roberto, Fediuk & Wagner, dalam Hill 2007). Perlu kita sadari bahwa
agresivitas bukanlah suatu permasalahan yang baru saja diamati oleh masyarakat.
Agresivitas ini sendiri telah melahirkan banyak pemikiran-pemikiran tentang
sebab-sebab dari prilaku agresi itu sendiri. Semakin menjamurnya prilaku agresi
yang ditimbulkan oleh berbagai kalangan terutama remaja saat ini menimbulkan
banyak pertanyaan, sehingga banyak peneliti dan kaum profesional yang mulai
menelaah tentang agresivitas ini dan mengkajinya lebih dalam lagi tentang
penyebab-penyebab serta sifat dari agresi itu sendiri.
Penyebab
agresivitas antara lain karena pola asuh orang tua, lingkungan sekitar,
kebiasaan-kebiasaan yang dijalankan, dan salah satunya yang menarik dalam
memicu agresi adalah perilaku konformitas (Singer, Levinne, 1993). Sehingga
menjadi kajian yang menarik ketika konformitas dapat mempengaruhi perilaku
agresifitas seseorang. Terjadinya bentrokan anggota
perguruan bela diri di Jombang, Jawa Timur. Anggota perguruan beladiri
ditangkap setelah terlibat bentrok di jalan raya Jombang-Lamongan, di desa
Klubuk kecamatan Kabuh kabupaten Jombang, Minggu (13/11/2011). Bentrokan
tersebut berawal, ketika ratusan anggota perguruan silat Kera Sakti asal
Lamongan ini sedang mengikuti acara pengesahan di Madiun sejak Sabtu dengan
mengendarai belasan truk. Saat perjalanan pulang dari Madiun menuju Lamongan,
mereka sempat melempari gapura perguruan Sh Terate, rumah warga dan seorang
anggota polisi. Kejadian itu memberikan gambaran adanya keterkaitan antara
konformitas dengan perilaku agresi.
Adanya
kecenderungan remaja memiliki emosi yang sangat kuat, tidak terkendali dan
irasional, mudah marah dan emosinya cenderung meledak apabila merasa terganggu,
sehingga memungkinkan munculnya perilaku agresif yang mereka anggap sebagai
jalan keluar yang tepat dalam memecahkan masalah. Konformitas dapat memunculkan
perilaku tertentu pada seseorang, perilaku tersebut dapat bersifat positif
maupun negatif. Perilaku negatif yang dimungkinkan muncul karena konformitas
adalah perilaku agresif, seperti kerusuhan dan tawuran. Kuatnya pengaruh kelompok
akan mempengaruhi perilaku dan sifat konformis pada diri remaja. Dalam
kaitannya dengan perilaku agresif, remaja yang memiliki konformitas yang tinggi
akan memiliki kecenderungan berperilaku agresif yang tinggi. Sedangkan remaja
yang memiliki konformitas yang rendah, memiliki kecenderungan perilaku agresif
yang rendah pula. Myers (1999) menyatakan konformitas merupakan perubahan
perilaku sebagai akibat dari tekanan kelompok, terlihat dari kecenderungan
remaja untuk selalu menyamakan perilakunya dengan kelompok acuan sehingga dapat
terhindar dari celaan maupun keterasingan.
Baron
&Byrne
merumuskan konformitas adalah adalah perubahan perilaku dan keyakinan sebagai
hasil dari tekanan kelompok dimana tekananitu bisa nyata atau bayangan saja
(Baron & Byrne, dalam Hurlock, 1994). Individu
akan melakukan tindakan sesuai dengan harapan-harapan kelompok sosial dimana
perilaku tersebut merupakan ekspresi persetujuan pada norma-norma. Adapun norma
tersebut merupakan aturan-aturan mengenai perilaku yang dapat diterima dan
diharapkan. Menurut(Myers,
1988), bentuk perilakuconform terbagi Compliance adalah melakukan suatu tindakan conform disebabkan
tekanan social meskipun secara pribadi sebenarnya tidak menyetujui, Acceptance
adalah melakukan suatu tindakan conform disebabkan persaan senang
hati karena percaya
terhadap tekanan atau normadalam kelompok. Konformitas
pada remaja dapat memberikan dampak
positif dan negatif bagi remaja itu sendiri, misalnya dampak positif
konformitas jika kelompok di mana individu tersebut berada sering melakukan
belajar bersama, maka secara tidak langsung individu tersebut terlibat di
dalamnya. Konformitas pun dapat memberikan dampak negatif seperti minum-minuman
beralkohol, merokok, pola hidup konsumtif (Teruna, 2010).
Perubahan
perilaku remaja juga terjadi karena keadaan emosi remaja yang masih labil
karena erat hubungannya dengan keadaan hormon. Kalau sedang senang-senangnya
mereka mudah lupa diri karena tidak mampu menahan emosi yang meluap-luap,
bahkan remaja mudah terjerumus kedalam tindakan tidak terpuji. Kondisi ini memicu terjadinya perilaku agresi pada
remaja. Sikap agresif pada seorang invidu dapat menunjukkan kemampuan seorang
individu dalam upaya proses pengendalian sikapnya dalam menghadapi suatu
permasalahan. Perilaku
agresif pada seorang individu secara langsung akan ditentukan oleh kondisi
pemahaman terhadap sesuatu permasalahan yang terjadi sehingga proses
pengendalian terjadinya sikap agresif dapat dilakukan. Menurut Baron (dalam
Koeswara 1988) setiap individu akan berbeda dalam cara menentukan dirinya untuk
mendekati atau menjauhi perilaku agresif. Dalam
penelitian Paul A.
(2009) mengingkari
kehadiran
satu dalam kelompok akan menipiskan perilaku diri agresif. Seperti
yang diharapkan, secara signifikan lebih sedikit peserta terlibat dalam agresi diri tanpa jelas didirikan self-agresif kelompok norma.
Penelitian
yang menunjukkan adanya hubungan antara konformitas dan perilaku agresi
dilakukan oleh Wijayanti (2009). Ia meneliti mengenai hubungan antara konformitas
kelompok dengan kecenderungan agresi pada anggota kelompok balap motor liar.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang
signifikan antara konformitas kelompok dengan kecenderungan agresi pada anggota
kelompok balap motor liar, dimana semakin tinggi konformitas kelompok maka akan
semakin tinggi pula kecenderungan agresi pada anggota kelompok balap motor
liar. Penelitian lain dilakukan oleh Puput & Budiani (2012) mengenai
pengaruh konformitas pada remaja terhadap perilaku agresi di SMK PGRI 7
Surabaya menunjukkan hasil bahwa ada pengaruh signifikan antara konformitas
pada geng remaja terhadap perilaku agresi di SMK PGRI 7 Surabaya. Perbedaan
penelitian ini dengan penelitian terdahulu difokusnya pada agresi yang besifat
kelompok sedangkan dalam penelitian agresi bersifat individu. Berdasarkan
uraian di atas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai hubungan
antara konformitas dan perilaku agresi pada remaja
beladiri.
Rumusan masalah dalam
penelitian ini adalah apakah terdapat hubungan antara konformitas
dengan perilaku agresi pada remaja? Tujuan dari penelitian ini
adalah untuk mengetahui hubungan antara konformitas dengan
perilaku agresi pada remaja.Manfaat
penelitian ini untuk mengembangkan ilmu Psikologi khususnya
Psikologi Sosial yang berkaitan dengan konformitas dengan perilaku agresi pada remaja. Selain itu penelitian
ini dapat memberi informasi khususnya bagi masyarakat atau orang tua untuk
memberikan pengawasan kepada remaja sehingga perilaku agresi dapat dihindarkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar