Pages

Kamis, 22 Oktober 2015

HUBUNGAN KONFORMITAS DENGAN PERILAKU AGRESI PADA REMAJA (1)




Mochamad Agus Wafa
Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Malang



Dewasa ini banyak tayangan di media tentang kekerasan, kekejaman, baik terhadap orang lain maupun diri sendiri. Hal-hal seperti itu merupakan bentuk dari perilaku agresivitas (Atkin, Smith, Roberto, Fediuk & Wagner, dalam Hill 2007). Perlu kita sadari bahwa agresivitas bukanlah suatu permasalahan yang baru saja diamati oleh masyarakat. Agresivitas ini sendiri telah melahirkan banyak pemikiran-pemikiran tentang sebab-sebab dari prilaku agresi itu sendiri. Semakin menjamurnya prilaku agresi yang ditimbulkan oleh berbagai kalangan terutama remaja saat ini menimbulkan banyak pertanyaan, sehingga banyak peneliti dan kaum profesional yang mulai menelaah tentang agresivitas ini dan mengkajinya lebih dalam lagi tentang penyebab-penyebab serta sifat dari agresi itu sendiri.

Penyebab agresivitas antara lain karena pola asuh orang tua, lingkungan sekitar, kebiasaan-kebiasaan yang dijalankan, dan salah satunya yang menarik dalam memicu agresi adalah perilaku konformitas (Singer, Levinne, 1993). Sehingga menjadi kajian yang menarik ketika konformitas dapat mempengaruhi perilaku agresifitas seseorang. Terjadinya bentrokan anggota perguruan bela diri di Jombang, Jawa Timur. Anggota perguruan beladiri ditangkap setelah terlibat bentrok di jalan raya Jombang-Lamongan, di desa Klubuk kecamatan Kabuh kabupaten Jombang, Minggu (13/11/2011). Bentrokan tersebut berawal, ketika ratusan anggota perguruan silat Kera Sakti asal Lamongan ini sedang mengikuti acara pengesahan di Madiun sejak Sabtu dengan mengendarai belasan truk. Saat perjalanan pulang dari Madiun menuju Lamongan, mereka sempat melempari gapura perguruan Sh Terate, rumah warga dan seorang anggota polisi. Kejadian itu memberikan gambaran adanya keterkaitan antara konformitas dengan perilaku agresi.

Adanya kecenderungan remaja memiliki emosi yang sangat kuat, tidak terkendali dan irasional, mudah marah dan emosinya cenderung meledak apabila merasa terganggu, sehingga memungkinkan munculnya perilaku agresif yang mereka anggap sebagai jalan keluar yang tepat dalam memecahkan masalah. Konformitas dapat memunculkan perilaku tertentu pada seseorang, perilaku tersebut dapat bersifat positif maupun negatif. Perilaku negatif yang dimungkinkan muncul karena konformitas adalah perilaku agresif, seperti kerusuhan dan tawuran. Kuatnya pengaruh kelompok akan mempengaruhi perilaku dan sifat konformis pada diri remaja. Dalam kaitannya dengan perilaku agresif, remaja yang memiliki konformitas yang tinggi akan memiliki kecenderungan berperilaku agresif yang tinggi. Sedangkan remaja yang memiliki konformitas yang rendah, memiliki kecenderungan perilaku agresif yang rendah pula. Myers (1999) menyatakan konformitas merupakan perubahan perilaku sebagai akibat dari tekanan kelompok, terlihat dari kecenderungan remaja untuk selalu menyamakan perilakunya dengan kelompok acuan sehingga dapat terhindar dari celaan maupun keterasingan.

Baron &Byrne merumuskan konformitas adalah adalah perubahan perilaku dan keyakinan sebagai hasil dari tekanan kelompok dimana tekananitu bisa nyata atau bayangan saja (Baron & Byrne, dalam Hurlock, 1994). Individu akan melakukan tindakan sesuai dengan harapan-harapan kelompok sosial dimana perilaku tersebut merupakan ekspresi persetujuan pada norma-norma. Adapun norma tersebut merupakan aturan-aturan mengenai perilaku yang dapat diterima dan diharapkan. Menurut(Myers, 1988), bentuk perilakuconform terbagi Compliance adalah melakukan suatu tindakan conform disebabkan tekanan social meskipun secara pribadi sebenarnya tidak menyetujui, Acceptance adalah melakukan suatu tindakan conform disebabkan persaan senang hati karena percaya terhadap tekanan atau normadalam kelompok. Konformitas pada remaja dapat  memberikan dampak positif dan negatif bagi remaja itu sendiri, misalnya dampak positif konformitas jika kelompok di mana individu tersebut berada sering melakukan belajar bersama, maka secara tidak langsung individu tersebut terlibat di dalamnya. Konformitas pun dapat memberikan dampak negatif seperti minum-minuman beralkohol, merokok, pola hidup konsumtif (Teruna, 2010).

Perubahan perilaku remaja juga terjadi karena keadaan emosi remaja yang masih labil karena erat hubungannya dengan keadaan hormon. Kalau sedang senang-senangnya mereka mudah lupa diri karena tidak mampu menahan emosi yang meluap-luap, bahkan remaja mudah terjerumus kedalam tindakan tidak terpuji. Kondisi ini memicu terjadinya perilaku agresi pada remaja. Sikap agresif pada seorang invidu dapat menunjukkan kemampuan seorang individu dalam upaya proses pengendalian sikapnya dalam menghadapi suatu permasalahan. Perilaku agresif pada seorang individu secara langsung akan ditentukan oleh kondisi pemahaman terhadap sesuatu permasalahan yang terjadi sehingga proses pengendalian terjadinya sikap agresif dapat dilakukan. Menurut Baron (dalam Koeswara 1988) setiap individu akan berbeda dalam cara menentukan dirinya untuk mendekati atau menjauhi perilaku agresif. Dalam penelitian Paul A. (2009)  mengingkari kehadiran satu  dalam kelompok akan  menipiskan perilaku diri agresif. Seperti yang diharapkan, secara signifikan lebih sedikit  peserta terlibat dalam agresi diri tanpa jelas didirikan  self-agresif kelompok norma.

Penelitian yang menunjukkan adanya hubungan antara konformitas dan perilaku agresi dilakukan oleh Wijayanti (2009). Ia meneliti mengenai hubungan antara konformitas kelompok dengan kecenderungan agresi pada anggota kelompok balap motor liar. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara konformitas kelompok dengan kecenderungan agresi pada anggota kelompok balap motor liar, dimana semakin tinggi konformitas kelompok maka akan semakin tinggi pula kecenderungan agresi pada anggota kelompok balap motor liar. Penelitian lain dilakukan oleh Puput & Budiani (2012) mengenai pengaruh konformitas pada remaja terhadap perilaku agresi di SMK PGRI 7 Surabaya menunjukkan hasil bahwa ada pengaruh signifikan antara konformitas pada geng remaja terhadap perilaku agresi di SMK PGRI 7 Surabaya. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu difokusnya pada agresi yang besifat kelompok sedangkan dalam penelitian agresi bersifat individu. Berdasarkan uraian di atas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai hubungan antara konformitas dan perilaku agresi pada remaja beladiri.

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah terdapat hubungan antara konformitas dengan perilaku agresi pada remaja? Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara konformitas dengan perilaku agresi pada remaja.Manfaat penelitian ini untuk mengembangkan ilmu Psikologi khususnya Psikologi Sosial yang berkaitan dengan konformitas dengan perilaku agresi pada remaja. Selain itu penelitian ini dapat memberi informasi khususnya bagi masyarakat atau orang tua untuk memberikan pengawasan kepada remaja sehingga perilaku agresi dapat dihindarkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar